Oleh: Ahmad Dimyathi Ihsan*
Seorang anak bertanya kepada Kakeknya, “Kakek, itu warung
apa?” Si Kakek pun ternganga mendengar pertanyaan itu. Belum selesai membuka
mulut untuk menjawab pertanyaan, anak berusia sembilan tahun itu menghujani
pertanyaan lagi, “kok banyak orang-orang yang suka masuk keluar dan terlihat
begitu senang dengan senyum yang puas?” Kakek semakin kaget. Dalam hati
berkata, ada apa dengan anak ini? masih kecil tanyanya aneh-aneh, bejat. Semakin
shock si Kakek mendengar hujanan peryataan Cucunya, “Kakek tidak ke sana? Aku
ingin coba masuk Kek.” Dengan tanpa pikir panjang, Kakek menarik Cucunya untuk
segera pulang.
Sampai di rumah, Kakek semakin naik darah melihat isi
rumah tidak ada satu orang pun. Pantas anaknya bejat, orang tua tidak pernah memikirkan
pergaulan dan pendidikan anak. Bergaul dengan para berandal jalan diacuhkan,
Dasar.!! Ke mana saja orang tuamu ini? Dengan suara kasar. Cucu hanya bisa diam
ketakutan melihat Kakeknya marah-marah.
Tak begitu lama, aku
dan Istri pulang dari kerja. Kontan saja, Kakek menyemprot kami. Toha, masuk
kamar, cepat tidur dulu sana!! Tanpa perlawanan, Toha lekas masuk dengan
mengunci pintu.
“Kalian ini. Pulang
kerja larut malam, tidak pernah memperhatikan perkembangan anak. Kalian tahu, anakmu
itu berani sama orang tua. Kasih itu yang namanya pendidikan moral. Jangan
hanya kalian cekoki uang, pakaian mewah, dan serba kecukupan. Semua itu tidak
cukup. Bodoh.!!”
“Maksud Kakek apa?”
“Iya, kami ini capek, pulang
dari kerja. Bapak malah marah-marah tidak jelas.”
“Eh, sejak kapan
kalian berani membantah?”
“Sudah-sudah. Sebenarnya
ada apa?”
“Kalian tahu warung
remang di pojok sana? Anakmu sudah tidak punya moral. Masih kecil sudah
mengerti yang begitu. Apa yang kalian ajarkan pada anakmu itu?”
“Apa?” Sahutku.
“Ya, Kalian harus
memperhatikan pergaulan anak kalian itu. Jangan hanya pergi kerja pagi-pagi
sekali, pulang malam pekat. Coba pikirkan, bagaimana bisa anak kelas tiga SD
bertanya yang tidak sopan. Katanya ingin anak yang shaleh, berguna bagi bangsa
dan agama. Tapi, apa nyatanya. Anak menjadi bejat, dibiarkan saja. Apakah itu
yang kalian ajarkan? Orang tua adalah cerminan anak. Jadi, bersikap lah yang
baik.”
“Ah, itu hanya karena
Toha penasaran kek, dia hanya ingin tahunya saja.”
“Bagaimana hanya ingin
tahu? Dia jelas-jelas ngomong mau coba masuk remang-remang. Kalian mau anakmu
menjadi laki-laki hidung belang?.”
“Yang benar saja Bapak?”
“Tidak percaya?”
“Ayah, semua ini
gara-gara ayah yang sering memanjakan Toha. Sehingga, sekarang dia melakukan
apa saja seenak perutnya.”
“Ah, Ibu hanya takut
saja si Toha menjadi anak nakal. Sampai-sampai asal menyalahkanku seenaknya.
Begitu juga kakek. Sudahlah, aku capek.” Aku masuk kamar tidur.
Pagi
Aku pun mencari tahu
apakah benar yang dikatakan kakek. Atau, itu hanya dia saja yang khawatir
dengan Toha. Aku harus membedah realita. Jangan sampai nantinya dia benar-benar
terjerumus.
Kebetulan saja hari ini
adalah hari sabtu, hari libur kerjaku. Aku gunakan kesempatan ini untuk mengantar
Toha ke sekolah. Aku memutar mobil supaya melewati jalan warung remang. Aku
mencoba supaya Toha ngomong tentang tempat prostitusi itu.
Namun, nampaknya Toha
masih kepikiran dengan kejadian semalam. Dia menjadi kaku, benar-benar kaku
kepadaku. Mungkin malu atau entah kenapa. Sebelum menjalankan strategi, aku
mencoba menenangkan hati putraku satu-satunya ini. Belum lama aku memancingnya untuk
berbicara, dia menceletuk bertanya, ”Ayah, itu tempat apa?” Belum sempat
membalas, dia mengrutu pertanyaan lagi. “Ayah pernah ke sana?””Berapa kali?”.
Shocklah diriku ini. Dengan spontan, “kurang ajar.!!””apa kausudah tidak waras?”
Aku membentak.
Sampai di Sekolah
“Yasudah, masuk sana.
Nanti terlambat.”
“Jangan berpikir yang
aneh-aneh. Belajar yang serius.”
“Iya ayah, maaf.” Sambil
menyahut tanganku, bersalaman.
****
Toha Pulang
“Assalamu’alaikum”. Masuk dan bersalaman dengan aku
dan seluruh temanku.
“Toha baru pulang?” Tanya Doni.
“Iya Om, Toha mau ganti baju dulu om.”
Aku, ibu dan
teman-temanku melanjutkan ngobrol-ngobrol. Ditengah obrolan kami, Toha keluar
menemui Omnya. Di panggkuan Doni, Toha menyelonongkan pertanyaan kepada Doni.
“Om, prostitusi itu apa?” Sontak kami pun terkejut atas pertanyaan itu.
Mukaku langsung
memerah mendengar pertanyaan itu. Antara malu dan marah menjadi satu. Batinku,
anak ini semakin kurang ajar saja. Orang tuanya dipermalukan di depan teman
kerja. Sepertinya, dia harus berobat ke Dokter jiwa.
“Kamu tanya apa Toha?
Prostitusi adalah tempat yang tidak boleh dikunjungi.” Jawab Doni serambi
tersenyum.
“Toha, masih saja kamu
mempertanyakan masalah itu. Sudah, sana main di luar.” Bentakku.
Toha meninggalkan
ruang tamu, dengan membawa jawaban ragu dari Doni.
“Hahaha,.. kalian
ajari apa anakmu itu, sampai-sampai tanya yang tidak layak ditanyakan oleh anak
seusianya.”
“Aku juga tidak tahu, Don.
Aku pun heran. Ada apa dengan anak itu? Akhir-akhir ini, dia aneh. Melempar
pertanyaan yang tidak jelas.” Curhatku sambil mengeluh.
“Sudahlah, namanya
anak kecil.”
“Tapi ini beda, Don.”
“Kita bawa ke Dokter
saja gimana yah?” Celetuk Istriku.
“Kamu ini? Anak
sendiri dikira tidak waras.” Bela Doni.
“Lantas, apa yang
harus kami perbuat Om? Membiarkan dia menjadi anak orakan? Gila.!!”
“Terserah kalianlah.
Kalian orang tuanya yang lebih tahu.”
Jam 16.00 WIB
“Sudah sore, kami
pulang dulu, heri.”
“Jaga baik-baik
Toha. Toha sesungguhnya adalah anak yang pintar.”
“Toha..” Panggil Doni.
“Ke mana anak itu,
sudah sore gini belum juga pulang?.”
“Mungkin juga di rumah
tetangga Om.”
“Sudah Don. Nanti juga
pulang. Kamu langsung pulang saja. Takut kejebak macet. Kalau sore begini
jalanan sering macet.”
****
Hari mulai gelap. Namun,
Toha belum juga pulang. Aku pun takut terjadi apa-apa dengan Toha. Tidak
seperti biasanya, Toha seperti ini. Pergi tidak pulang-pulang. Apakah dia
merasa aku usir, saat tadi ada Omnya? Ah, itu tidak mungkin. Batinku menggerutu
sendiri.
Dengan rasa su’udhan,
aku menuju warung remang di sudut gang dekat rumah. Siapa tahu dia di sana.
Batinku. Benar saja tebakanku. Dia berdiri di depan tempat prostitusi itu.
Rasa penasaran menghantuiku.
Aku mencoba mengendap-endap mengikuti Toha. Aku diam di tepi jalan. Hanya
memantau. Tak lama kemudian, anak kecilku masuk ke dalam. Hah, gila.!! Anakku
masuk ke tempat prostitusi.
Tidak lama sebelum aku
mengikutinya masuk, dia lari ke luar menyambar melewatiku. Lari menuju arah
pulang rumah.
“Toha.!!” Teriak
memanggil.
“Kamu tadi ngapain?”
Toha hanya diam.
“Toha, jawab.!!”
Sambil menggoyahkan pundaknya.
“Kamu sudah gila.!! Besok
ikut Ayah.”
Keesokan Harinya
Sampailah kami ke
tempat Dokter jiwa. “Dokter, tolong periksa anak saya, sebelum dia benar-benar
gila. Dia berkelakuan bejat. Masih kecil sudah ke tempat prostitusi. Padahal,
saya selalu memenuhi kebutuhannya. Sekolah berkelas nan elit pun sudah saya
beri. Tapi, kelakuaanya tetap saja seperti setan.” Kemudian, Dokter itu
mempersilahkan Toha masuk ke kamar periksa.
Setelah menunggu dua
jam, Dokter jiwa itu keluar dari kamarnya. “Bagaimana Dok, keadaan anak saya?”
saya rasa baik dan sehat wa al-afiat. “Maksud saya moral dan jiwanya Dok?!”
Iya, anak bapak baik-baik saja. Saya punya sedikit nasihat buat bapak. “Apa itu
Dok?” Anak bapak ini masih kecil. Apa yang dilihatnya cenderung ditiru. Apa
yang diperbuat adalah refleksi dari lingkungan dan keluarganya. Jadi,
berikanlah perhatian yang lebih.
Apakah anak anda masih
punya Ibu? “Iya Dok.” Bagus. Kalau begitu saya anjurkan supaya Bapak dan Ibu
datang ke sini untuk saya periksa sebelum anaknya. Sebelum dek Toha menginjak
ke stadium akhir.
Kontan saja, aku dan
Toha pergi meninggalkan Dokter itu. “Gila saja.!!” Memangnya dia bisa
membodohiku. Anakku yang sakit, kenapa aku yang mau diperiksa. Kenapa tidak DPR
porno saja yang dituduh sebagai penyebab krisis moral anak ini. Akhirnya, aku
memilih untuk mengurus Toha sendiri. Kami pun pulang.
Sampai Rumah
Sesampainya di rumah,
aku dikejutkan oleh gadis manis yang mengenakan baju dan rok minim.
“Apakah ini rumah dek
Toha mas?” tanyanya.
“Iya, ini siapa?”
“Saya pekerja di
warung pojok mas.”
Haduh, ada masalah
apalagi ini si Toha. Batinku.!! Dengan berat hati, aku mempersilahkannya masuk.
“Maaf, sebenarnya ada
apa mbak?”
“Jadi begini mas. Saya
di keluarkan dari warung remang yang ada di pojokan gang. Semua ini berkat dek
Toha yang datang waktu kemarin malam.”
Aku semakin kaget dan
takut saja. Sebenarnya, apa yang dilakukan Toha? Sehingga, Wanita Tuna Susila
(WTS) ini di keluarkan germonya dari Remang-Remang itu.
“Maaf mbk. Maafkan
kelancangan anak saya. Mungkin dia kemarin hanya main-main saja. Nanti, biar
saya kasih dia pelajaran.”
“Tidak mas. Saya malah
senang dan berterima kasih banyak kepada dek Toha. Sebab, dia menyelamatkan
saya dari pelanggan bejat. Saya dipaksa pelanggan untuk melayaninya. Untung dek
Toha datang membantuku dan kemudian dia kabur. Entah apa yang ada di pikiran
dek Toha waktu itu.”
“Oh, jadi begitu ya
mbk. Terima kasih. Saya kira, anak saya sudah tidak punya moral. Sering
menanyakan tempat prostitusi itu. Bahkan, nekat masuk.”
“Tidak mas. Saya kira
dek Toha hanya masih lugu saja. Mungkin, dia mengira bahwa warung remang adalah
tempat bermain yang menyenangkan baginya.”
*Penulis
*Penulis

0 comments:
Post a Comment