Pages

BThemes

Friday, June 14, 2013

Sastra "Warung Remang"

304130_149361501814133_100002208534792_287459_6443052_nWarung Remang
Oleh: Ahmad Dimyathi Ihsan*

Seorang anak bertanya kepada Kakeknya, “Kakek, itu warung apa?” Si Kakek pun ternganga mendengar pertanyaan itu. Belum selesai membuka mulut untuk menjawab pertanyaan, anak berusia sembilan tahun itu menghujani pertanyaan lagi, “kok banyak orang-orang yang suka masuk keluar dan terlihat begitu senang dengan senyum yang puas?” Kakek semakin kaget. Dalam hati berkata, ada apa dengan anak ini? masih kecil tanyanya aneh-aneh, bejat. Semakin shock si Kakek mendengar hujanan peryataan Cucunya, “Kakek tidak ke sana? Aku ingin coba masuk Kek.” Dengan tanpa pikir panjang, Kakek menarik Cucunya untuk segera pulang.
Sampai di rumah, Kakek semakin naik darah melihat isi rumah tidak ada satu orang pun. Pantas anaknya bejat, orang tua tidak pernah memikirkan pergaulan dan pendidikan anak. Bergaul dengan para berandal jalan diacuhkan, Dasar.!! Ke mana saja orang tuamu ini? Dengan suara kasar. Cucu hanya bisa diam ketakutan melihat Kakeknya marah-marah.
Tak begitu lama, aku dan Istri pulang dari kerja. Kontan saja, Kakek menyemprot kami. Toha, masuk kamar, cepat tidur dulu sana!! Tanpa perlawanan, Toha lekas masuk dengan mengunci pintu.
“Kalian ini. Pulang kerja larut malam, tidak pernah memperhatikan perkembangan anak. Kalian tahu, anakmu itu berani sama orang tua. Kasih itu yang namanya pendidikan moral. Jangan hanya kalian cekoki uang, pakaian mewah, dan serba kecukupan. Semua itu tidak cukup. Bodoh.!!”
“Maksud Kakek apa?”
“Iya, kami ini capek, pulang dari kerja. Bapak malah marah-marah tidak jelas.”
“Eh, sejak kapan kalian berani membantah?”
“Sudah-sudah. Sebenarnya ada apa?”
“Kalian tahu warung remang di pojok sana? Anakmu sudah tidak punya moral. Masih kecil sudah mengerti yang begitu. Apa yang kalian ajarkan pada anakmu itu?”
“Apa?” Sahutku.
“Ya, Kalian harus memperhatikan pergaulan anak kalian itu. Jangan hanya pergi kerja pagi-pagi sekali, pulang malam pekat. Coba pikirkan, bagaimana bisa anak kelas tiga SD bertanya yang tidak sopan. Katanya ingin anak yang shaleh, berguna bagi bangsa dan agama. Tapi, apa nyatanya. Anak menjadi bejat, dibiarkan saja. Apakah itu yang kalian ajarkan? Orang tua adalah cerminan anak. Jadi, bersikap lah yang baik.”
“Ah, itu hanya karena Toha penasaran kek, dia hanya ingin tahunya saja.”
“Bagaimana hanya ingin tahu? Dia jelas-jelas ngomong mau coba masuk remang-remang. Kalian mau anakmu menjadi laki-laki hidung belang?.”
“Yang benar saja Bapak?”
“Tidak percaya?”
“Ayah, semua ini gara-gara ayah yang sering memanjakan Toha. Sehingga, sekarang dia melakukan apa saja seenak perutnya.”
“Ah, Ibu hanya takut saja si Toha menjadi anak nakal. Sampai-sampai asal menyalahkanku seenaknya. Begitu juga kakek. Sudahlah, aku capek.” Aku masuk kamar tidur.
Pagi
Aku pun mencari tahu apakah benar yang dikatakan kakek. Atau, itu hanya dia saja yang khawatir dengan Toha. Aku harus membedah realita. Jangan sampai nantinya dia benar-benar terjerumus.
Kebetulan saja hari ini adalah hari sabtu, hari libur kerjaku. Aku gunakan kesempatan ini untuk mengantar Toha ke sekolah. Aku memutar mobil supaya melewati jalan warung remang. Aku mencoba supaya Toha ngomong tentang tempat prostitusi itu.
Namun, nampaknya Toha masih kepikiran dengan kejadian semalam. Dia menjadi kaku, benar-benar kaku kepadaku. Mungkin malu atau entah kenapa. Sebelum menjalankan strategi, aku mencoba menenangkan hati putraku satu-satunya ini. Belum lama aku memancingnya untuk berbicara, dia menceletuk bertanya, ”Ayah, itu tempat apa?” Belum sempat membalas, dia mengrutu pertanyaan lagi. “Ayah pernah ke sana?””Berapa kali?”. Shocklah diriku ini. Dengan spontan, “kurang ajar.!!””apa kausudah tidak waras?” Aku membentak.
Sampai di Sekolah
“Yasudah, masuk sana. Nanti terlambat.”
“Jangan berpikir yang aneh-aneh. Belajar yang serius.”
“Iya ayah, maaf.” Sambil menyahut tanganku, bersalaman.
****
Toha Pulang
“Assalamu’alaikum”. Masuk dan bersalaman dengan aku dan  seluruh temanku.
“Toha baru pulang?” Tanya Doni.
“Iya Om, Toha mau ganti baju dulu om.”
Aku, ibu dan teman-temanku melanjutkan ngobrol-ngobrol. Ditengah obrolan kami, Toha keluar menemui Omnya. Di panggkuan Doni, Toha menyelonongkan pertanyaan kepada Doni. “Om, prostitusi itu apa?” Sontak kami pun terkejut atas pertanyaan itu.
Mukaku langsung memerah mendengar pertanyaan itu. Antara malu dan marah menjadi satu. Batinku, anak ini semakin kurang ajar saja. Orang tuanya dipermalukan di depan teman kerja. Sepertinya, dia harus berobat ke Dokter jiwa.
“Kamu tanya apa Toha? Prostitusi adalah tempat yang tidak boleh dikunjungi.” Jawab Doni serambi tersenyum.
“Toha, masih saja kamu mempertanyakan masalah itu. Sudah, sana main di luar.” Bentakku.
Toha meninggalkan ruang tamu, dengan membawa jawaban ragu dari Doni.
“Hahaha,.. kalian ajari apa anakmu itu, sampai-sampai tanya yang tidak layak ditanyakan oleh anak seusianya.”
“Aku juga tidak tahu, Don. Aku pun heran. Ada apa dengan anak itu? Akhir-akhir ini, dia aneh. Melempar pertanyaan yang tidak jelas.” Curhatku sambil mengeluh.
“Sudahlah, namanya anak kecil.”
“Tapi ini beda, Don.”
“Kita bawa ke Dokter saja gimana yah?” Celetuk Istriku.
“Kamu ini? Anak sendiri dikira tidak waras.” Bela Doni.
“Lantas, apa yang harus kami perbuat Om? Membiarkan dia menjadi anak orakan? Gila.!!”
“Terserah kalianlah. Kalian orang tuanya yang lebih tahu.”
Jam 16.00 WIB
“Sudah sore, kami pulang dulu, heri.”
“Jaga baik-baik Toha. Toha sesungguhnya adalah anak yang pintar.”
“Toha..” Panggil Doni.
“Ke mana anak itu, sudah sore gini belum juga pulang?.”
“Mungkin juga di rumah tetangga Om.”
“Sudah Don. Nanti juga pulang. Kamu langsung pulang saja. Takut kejebak macet. Kalau sore begini jalanan sering macet.”
****
Hari mulai gelap. Namun, Toha belum juga pulang. Aku pun takut terjadi apa-apa dengan Toha. Tidak seperti biasanya, Toha seperti ini. Pergi tidak pulang-pulang. Apakah dia merasa aku usir, saat tadi ada Omnya? Ah, itu tidak mungkin. Batinku menggerutu sendiri.
Dengan rasa su’udhan, aku menuju warung remang di sudut gang dekat rumah. Siapa tahu dia di sana. Batinku. Benar saja tebakanku. Dia berdiri di depan tempat prostitusi itu.
Rasa penasaran menghantuiku. Aku mencoba mengendap-endap mengikuti Toha. Aku diam di tepi jalan. Hanya memantau. Tak lama kemudian, anak kecilku masuk ke dalam. Hah, gila.!! Anakku masuk ke tempat prostitusi.
Tidak lama sebelum aku mengikutinya masuk, dia lari ke luar menyambar melewatiku. Lari menuju arah pulang rumah.
“Toha.!!” Teriak memanggil.
“Kamu tadi ngapain?”
Toha hanya diam.
“Toha, jawab.!!” Sambil menggoyahkan pundaknya.
“Kamu sudah gila.!! Besok ikut Ayah.”
Keesokan Harinya
Sampailah kami ke tempat Dokter jiwa. “Dokter, tolong periksa anak saya, sebelum dia benar-benar gila. Dia berkelakuan bejat. Masih kecil sudah ke tempat prostitusi. Padahal, saya selalu memenuhi kebutuhannya. Sekolah berkelas nan elit pun sudah saya beri. Tapi, kelakuaanya tetap saja seperti setan.” Kemudian, Dokter itu mempersilahkan Toha masuk ke kamar periksa.
Setelah menunggu dua jam, Dokter jiwa itu keluar dari kamarnya. “Bagaimana Dok, keadaan anak saya?” saya rasa baik dan sehat wa al-afiat. “Maksud saya moral dan jiwanya Dok?!” Iya, anak bapak baik-baik saja. Saya punya sedikit nasihat buat bapak. “Apa itu Dok?” Anak bapak ini masih kecil. Apa yang dilihatnya cenderung ditiru. Apa yang diperbuat adalah refleksi dari lingkungan dan keluarganya. Jadi, berikanlah perhatian yang lebih.
Apakah anak anda masih punya Ibu? “Iya Dok.” Bagus. Kalau begitu saya anjurkan supaya Bapak dan Ibu datang ke sini untuk saya periksa sebelum anaknya. Sebelum dek Toha menginjak ke stadium akhir.
Kontan saja, aku dan Toha pergi meninggalkan Dokter itu. “Gila saja.!!” Memangnya dia bisa membodohiku. Anakku yang sakit, kenapa aku yang mau diperiksa. Kenapa tidak DPR porno saja yang dituduh sebagai penyebab krisis moral anak ini. Akhirnya, aku memilih untuk mengurus Toha sendiri. Kami pun pulang.
Sampai Rumah
Sesampainya di rumah, aku dikejutkan oleh gadis manis yang mengenakan baju dan rok minim.
“Apakah ini rumah dek Toha mas?” tanyanya.
“Iya, ini siapa?”
“Saya pekerja di warung pojok mas.”
Haduh, ada masalah apalagi ini si Toha. Batinku.!! Dengan berat hati, aku mempersilahkannya masuk.
“Maaf, sebenarnya ada apa mbak?”
“Jadi begini mas. Saya di keluarkan dari warung remang yang ada di pojokan gang. Semua ini berkat dek Toha yang datang waktu kemarin malam.”
Aku semakin kaget dan takut saja. Sebenarnya, apa yang dilakukan Toha? Sehingga, Wanita Tuna Susila (WTS) ini di keluarkan germonya dari Remang-Remang itu.
“Maaf mbk. Maafkan kelancangan anak saya. Mungkin dia kemarin hanya main-main saja. Nanti, biar saya kasih dia pelajaran.”
“Tidak mas. Saya malah senang dan berterima kasih banyak kepada dek Toha. Sebab, dia menyelamatkan saya dari pelanggan bejat. Saya dipaksa pelanggan untuk melayaninya. Untung dek Toha datang membantuku dan kemudian dia kabur. Entah apa yang ada di pikiran dek Toha waktu itu.”
“Oh, jadi begitu ya mbk. Terima kasih. Saya kira, anak saya sudah tidak punya moral. Sering menanyakan tempat prostitusi itu. Bahkan, nekat masuk.”
“Tidak mas. Saya kira dek Toha hanya masih lugu saja. Mungkin, dia mengira bahwa warung remang adalah tempat bermain yang menyenangkan baginya.” 
*Penulis